Arsip Berita

Kultum Mingguan di Pengadilan Agama Garut

 

Garut - Senin, 10 Desember 2018, setelah sholat Ashar berjama'ah, para pegawai di Pengadilan Agama Garut berkumpul di Masjid Al-Mahkamah Pengadilan Agama Garut untuk mengikuti kultum mingguan yang diselenggarakan oleh DKM Masjid Al-Mahkamah Pengadilan Agama Garut. Kultum mingguan ini disampaikan oleh Andi Asyraf, S.H., salah satu calon hakim yang sedang melaksanakan agenda magang PPC Gel. III di Pengadilan Agama Garut, dan didengarkan dengan seksama oleh seluruh jamaah. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan di Pengadilan Agama Garut.

2

Pada majelis kulltum rutin tersebut, pemateri menyampaikan penjelasan mengenai bagian atau lapisan hati manusia yang disebutkan dalam QS. Al-An’am: 125, Q.S. Al-Hajj: 45-46, Q.S. Ali Imron: 154, QS. Al-Israa’:36, dan QS. Al-Baqarah: 269. Ia pun merujuk pada buku karya Sudirman Teba yang berjudul Tasawuf Positif, yang pada intinya konstruksi hati manusia dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya yaitu:

  1. Shadr/Shuduur, memiliki pengertian hati bagian luar, oleh karena itu istilah shadr/shuduur biasa pula diartikan sebagai dada (QS. Al-Insyiraah: 1). Namun dada disini tidak hanya berarti fisik, tetapi juga non fisik. Ini kerena menurut Amir An-Najr, shadr merupakan pintu masuknya segala macam godaan nafsu, penyakit hati dan juga petunjuk dari Tuhan. Shadr juga merupakan tempat masuknya ilmu pengetahuan ke dalam dirinya manusia. Karena perannya sebagai lapisan hati terluar, shadr juga berfungsi sebagai penerima informasi, karena ia menerima semua jenis informasi maka ia merupakan wilayah pertempuran utama antara kekuatan positif dan negatif dalam diri manusia, tempat manusia diuji dengan kecenderungan-kecendrungan negatif nafsu. Apabila seorang manusia tidak mampu menjaga hatinya pada level ini, maka ada indikasi manusia tersebut mudah untuk dikuasai oleh hawa nafsu.
  2. Lapisan hati yang kedua adalah qolb, dalam bahasa Indonesia juga diartikan dengan kalbu atau hati. Hubungan antara qolb dengan shadr ialah bahwa qolb merupakan sumber mata air, sedangkan shadr diibaratkan sebagai danaunya, atau shadr merupakan lapangan bagi qolb. Dalam hadist Arba’in yang ke-6, qalb dipadankan dengan karakter sebuah pagar, antara yang “sebelah sini” dan yang “sebelah situ”. Antara halal dan haram, atau antara dunia dan akhirat. Qalb memiliki makna dasar yang terbolak-balik, dalam artian bahwa pada lapisan hati yang kedua ini terkadang masih terdapat inkonsistensi pada perbuatan seorang manusia untuk berbuat baik, dan masih ada kecenderungan untuk bertindak lalai, oleh karena itu manusia harus mampu mengontrol qalb-nya dengan senantiasa berdzikir kepada Allah agar diteguhkan qalb-nya pada sisi yang positif.
  3. Pada lapisan yang ketiga, terdapat fuad/af’idah, disebut juga sebagai hati nurani, atau suara hati, sumber cahaya atau mata air kebenaran. Shadr adalah hati terluar atau pikiran. Qolb adalah irisan antara shodr dan fuad. Sehingga, qolb adalah pintu masuk “sesuatu” dari shadr ke fuad atau pintu keluar “sesuatu” dari fuad ke shadr. Fuad adalah jenis hati yang pertama kali aktif dan juga yang terakhir kali mempertanggungjawabkan kinerjanya selama di bumi kepada Allah. Fuad adalah watak, memberikan energi (misal : cinta) kepada tempat yang kosong. Jika fuad-nya bercahaya maka insya Allah akan membuat jasad manusia relatif bersih dari penyakit fisik, dan qolb manusia lebih mudah bersih dari penyakit hati.
  4. Lapisan hati yang paling dalam ialah albab. Kata “albab” merupakan jamak dari kata “lubb” yang bermakna inti, isi, sari, terpenting. Lubb adalah intisari dari segala sesuatu, atau murni-bersih. Definisi ini dirasionalisasikan dengan perumpamaan ketika kita akan memakan buah kelapa, kita membuang, mengeluarkan atau mengupas bagian luarnya, sehingga isi buah kelapa tersebut dapat terambil. Isi kelapa tersebut dinamakan lubb. Manusia yang dapat mencapai atau mengaktifkan lubb-nya disebut dengan ulul albab, ulul albab ialah orang-orang yang memiliki akal/hati murni yang tidak diselubungi oleh kabut ide yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir. Keistimewaan-keistimewaan Ulul Albab ialah ia memiliki ilmu hikmah berupa ilmu pengetahuan dan kebijaksaan. Oleh karena itu, ulul albab adalah orang yang perjalanannya telah mencapai kepada hati yang paling dalam, yang dapat menangkap dan menerima cahaya Ilahiyah.

Kultum mingguan ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua Pengadilan Agama Garut, Drs. H. Adroni, para hakim, pejabat struktural dan fungsional, Cakim dan pegawai serta para masyarakat pencari keadilan yang kebetulan sedang menunggu jadwal persidangan. (aa&af)